Aku, Jake, dan Rambut berantakannya itu



Semenjak putus dua hari lalu, aku tidak mungkin banyak bertanya seperti dulu lagi. Tentang grammar yang aku sering keliru, tentang pengumuman larut malam dari guru, tentang fakta aneh yang tidak bisa dipercaya, sampai hal-hal lain yang seharusnya memang bisa aku cari sendiri kejelasannya.

Biasanya, setelah mendapat informasi (yang sepotong-sepotong itu) dari wali kelas, aku akan langsung menghubungi Jake untuk bertanya lebih jelas. Tapi kemarin, aku baru ingat ketika hampir mengirim pesan padanya. 

Waktu terakhir kali kami pergi ke Mall untuk beli parfum kesukaanku, Jake bilang aku boleh menghubunginya kapan pun, dia juga bilang tidak akan potong rambut karena dia tahu aku suka rambut panjangnya itu. 

Aku lupa bagaimana kami bisa dekat, tapi waktu itu aku tidak sengaja membangunkannya karena harus menagih uang kas. Jake yang bangun dari meja dengan rambut berantakannya, membuatku cukup berdebar. Sejak kapan orang bangun tidur seganteng ini???

Sejak itu pun aku jadi senyum-senyum sendiri melihatnya berlari dengan rambutnya yang berantakan tertiup angin, atau ketika dia presentasi depan kelas dan tangannya sibuk mengusap rambut. Teman-temanku menganggapku gila karena itu.

"Rambut kamu bagus." Kataku sambil senyum-senyum.

Aku ingat Jake memasang wajah aneh, tapi pipinya tidak bisa menyembunyikan rona merah. Entah kenapa aku berani sekali waktu itu.

Dan sekarang, laki-laki dengan rambut berantakan yang dulu hanya bisa kupandangi dari jauh, berdiri di sampingku sambil makan es krim. Kami terus mengobrol sepanjang rak kulkas berisi susu. Jake bilang, Layla, anak anjingnya di rumah ingin bertemu denganku. Aku hanya tertawa. Jake, kamu itu alasan aku terus hidup bahagia. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita berusaha sama-sama, ya?

Sampai akhirnya aku menyadari hal yang harus diselesaikan. Kami tidak bisa terus seperti ini. Aku dan Jake harus tetap melanjutkan perjalanan. Kami berbeda. Dengan berat hati, aku mengajak Jake ke Mall tempat kami biasa ngedate. Aku sungguh hampir menangis ketika menyampaikan isi pikiranku belakangan ini karena aku terlalu takut.

Jake mengusap rambutku, dia bilang semua akan baik-baik saja. Dia benar. Tanpanya pun dunia tetap berjalan. Aku hanya perlu membiasakan diri dengan terlepas darinya.

Tapi hari ini kami bertemu di kantin. Jake bersama keenam temannya memandangiku. Salah seorang menyeletuk, "Abel, si Jaki kangen nih!"

Aku tahu itu cuma bercanda, tapi dari dulu Jake paling tidak bisa menyembunyikan wajah salah tingkahnya.

Aku tersenyum, menahan air mata. Aku juga merindukannya, merindukan rambut berantakannya yang masih belum dipotong. Kami masih muda, perjalanan kami masih panjang. Aku senang menjalani hari-hariku dengan Jake. Buatku pun, hubungan kami selama ini bukan hal yang buang-buang waktu. Aku hanya berharap seandainya aku tidak membuat keputusan secepat itu.