Tapi aku suka kalau sama kamu - Bagian 1




Abel tidak pernah begitu tertarik melakukan sesuatu. Yang akhir-akhir ini dia suka hanya menjawab kuis di pelajaran ekonomi dan dapat 10 ribu. Abel juga tidak begitu suka menagih uang kas ke teman-teman kelasnya yang malas bayar, dia manjadi bendahara karena dipaksa Kinan. Ah, bagaimana sih rasanya punya sesuatu yang benar-benar kita suka? 

Hari ini jadwalnya menagih uang kas. Kinan sudah semangat dengan bukunya. "Abel, ayo!" Ia menarik teman sebangkunya yang malas itu. "Jangan lupa pasang muka galak." 

Abel mengusap poninya yang berantakan, berjalan mengekori Kinan yang marah-marah pada geng anak laki-laki yang sudah nunggak 2 bulan. 

"Misi, bayar uang kas." Abel menghampiri meja paling belakang yang penghuninya sedang tidur. Abel mendengus kesal, mendekatkan wajahnya pada laki-laki itu. "Woi, uang kas."

Laki-laki itu mengangkat kepalanya kaget. Abel juga ikut terkejut dan menjauhkan tubuhnya. Tadinya Abel mau marah-marah ngikutin Kinan, tapi Jake, laki-laki yang baru bangun itu, mengusap rambutnya yang berantakan dengan keren. 

"Berapa?" Katanya. 

"Eh, 10 ribu." Abel jadi tidak bisa mengalihkan pandangan. Sejak kapan Jake jadi terlihat setampan ini? Sudah hampir 1 tahun satu kelas, Abel baru menyadarinya. 

Sejak saat itu, Abel jadi tidak sengaja memandangi Jake terus-terusan. Apalagi laki-laki itu suka sekali mengusap rambut, hal paling keren yang bisa dilakukan laki-laki menurut Abel. 

"Nan, si Jake tuh ganteng ya ternyata." Bisik Abel saat mereka sedang memerhatikan presentasi kelompok. Jake yang berdiri paling ujung, kadang salah tingkah karena beberapa kali menangkap Abel yang memandanginya tanpa berpaling. 

"Jangan lo lihatin terus! Nanti geer dia." 

"Lah, emang ganteng..."

Kinan geleng-geleng kepala. Teman sebangkunya ini memang selalu aneh. Tiba-tiba saja dia paling semangat menarik uang kas, turun ke lapangan paling pertama saat jam olahraga, dan membuka mata dengan segar selama presentasi yang membosankan. Kinan tidak pernah bisa mengerti isi kepalanya.

"Rambut kamu bagus." 

Kinan langsung menoleh ke arah Abel yang dengan santainya bilang seperti itu pada Jake. Mereka sedang menagih uang kas. Jake yang sedang mengambil uang di dompet pun jadi salah tingkah. Abel suka sekali melihatnya salah tingkah. 

"Kalau temen-temennya pada tahu, lo bisa disorakin sama mereka." Kata Kinan saat makan siang. 

"Emang pengen disorakin, biar kita cepet pacaran!" Abel melirik tongkrongan bang Adam di ujung kantin. Jake dan teman-temannya suka sekali kumpul di sana. 

Kinan agak terkejut. Dia pikir Abel hanya iseng naksir Jake karena gabut, tapi ternyata cewek itu beneran naksir dan ingin pacaran. 

"Bel, gue tahu lo hopeless romantic, tapi Jake kan.. kristen." 

"Oh iyaya?" Abel menyengir tak berdosa. "Ya udah, nggak apa-apa." 

Kinan kembali geleng-geleng kepala.