Ingatan paling menyenangkan



Namanya Raka, dia hanya anak laki-laki biasa yang kalau berangkat sekolah tidak pernah sarapan. Hari-harinya berjalan normal. Dia akan datang lima menit sebelum bel, makan siang di kantin, mengerjakan tugas-tugas, dan pulang tepat waktu. Tapi hari ini, dia bertemu perempuan aneh yang basah kuyup di gerbang sekolah.

Ngapain sih ini cewek?

Raka kenal cewek itu, teman sekelasnya. Karena tidak tega melihatnya kedinginan, Raka memberinya payung, tidak masalah rambutnya lepek kena hujan padahal baru keramas tadi pagi. Dia pun meninggalkannya dan berlari ke parkiran. Raka ingat dia selalu bawa jas hujan di motor. Selesai mengenakannya, dia mengeluarkan motornya dan menghampiri Falisha yang ternyata sudah naik angkot.

Tadinya dia ingin menawari tumpangan.

***

Sore ini hujan turun lagi. Raka merapatkan jaketnya karena udara mendadak dingin. Dia tidak mungkin menerobos untuk sampai ke parkiran, seragamnya bisa basah kuyup lagi. Kepalanya juga masih pusing karena ujian fisika tadi.

Teman-teman kelas tampak riuh mengeluhkan hujan yang tak kunjung reda, apalagi mereka terpaksa keluar kelas karena akan dipiket. Raka pun menenteng ranselnya.

"Eh, Raka, maaf banget ya payung kamu ketinggalan. Semalem aku jemur di lantai atas, eh paginya kelupaan bawa."

Itu Falisha, cewek yang kemarin. Ia menghampiri Raka sambil tergopoh-gopoh membawa ransel dan tas bekalnya karena habis diusir paksa oleh teman-teman yang piket. 

Falisha itu termasuk cewek populer di sekolah, dia cewek yang cerianya mengalahkan matahari di siang bolong. Raka sering melihatnya makan di kantin bersama teman-temannya. Raka juga sering melihatnya di perpustakaan bersama teman-temannya yang lain. Sebenarnya ada berapa banyak sih temannya?

Karena itu, Raka sedikit gugup. "Iya, nggak apa-apa."

"Serius, nih, nggak apa-apa? Kamu jadi nggak bisa pulang, deh. Maaf banget ya." 

"Nggak apa-apa kok, gue santai aja." Raka berdehem, "Aku."

"Gue-elo juga nggak apa-apa. Tadi takut nggak sopan aja tiba-tiba pake gue-elo, soalnya kan kita kurang deket." Kata Falisha santai.

"Iya. Nggak apa-apa kok, Lis."

"Lis???"

Raka terdiam sebentar. Benar kan namanya Falisha? Saking tidak dekatnya, Raka sampai bingung mau memanggilnya bagaimana. Apakah Lis terlalu sok akrab? Biasanya teman-teman memanggilnya gimana sih?

"Sorry..." Raka tampak ragu, "Fa."

"Sha, aja." Falisha tersenyum, "Ya udah, kalau gitu gue duluan, ya." gerak-geriknya terlihat bersiap menerobos hujan

"Eh." Seru Raka tertahan, "Lo.. mau nerobos?"

"Iya, gue harus ke kelasnya Helen. Pulang bareng dia soalnya."

"Masih deres loh."

"Ah, gue nggak gampang sakit kok."

Raka gelisah sendiri, bayangan soal Falisha yang menggigil basah kuyup kemarin melintas di pikirannya. Dia meletakkan ranselnya di lantai. "Pakai jaket gue nih."

"Hah?"

Suara berisik hujan dan teman-teman lain membuat suara Raka yang pelan terdengar samar.

"Pakai jaket gue." 

Falisha memandang bingung.

"Jaket baru kok." Raka berdehem, "Jadi nggak bau."

"Oohh. Nggak perlu kok, Ka."

"Biar seenggaknya seragam lo nggak..." Laki-laki itu tampak bingung dengan kalimatnya sendiri, "tembus."

Falisha jadi berpikir lagi, bergumam, "Boleh deh. Nggak apa-apa, nih?"

"Iya."

"Besok ya, sekalian sama payung. Kali ini nggak bakal lupa deh." Falisha tersenyum setelah memakai jaket laki-laki itu. Benar, jaketnya wangi sekali. "Makasih banyak ya, Ka."

Falisha berlari kecil menyeberangi lapangan, ia sampai di kelas seberang dengan selamat dan langsung disambut temannya. Raka masih terus memerhatikan. Pusingnya langsung hilang.

Besoknya, setelah tergopoh-gopoh menaiki tangga karena bel sudah berbunyi 5 menit lalu, Raka menemukan payung dan jaketnya yang dibungkus rapi di atas meja. Ada sekotak coklat dan sebuah catatan kecil berisi pesan: Thanks ya, Raka, jaket lo wangi ^____^

Raka jadi senyum-senyum sendiri. Keringat yang bercucuran di dahinya jadi naik lagi. Matanya mencari pengirim pesan itu, ternyata Falisha juga sedang menatapnya. Keduanya pun salah tingkah. 

*** 

Setidaknya itu yang bisa Raka ingat tentang perkenalannya dengan Falisha. Ingatan yang berharga untuknya. Masa-masa yang sangat menyenangkan bersama cewek paling baik di sekolah yang pernah dikenalnya. Jelas itu tidak akan terlupakan. Falisha lah satu-satunya kenangan yang bisa ia simpan di usia 17 tahun itu. 

Raka mengusap cincin yang melingkar di jari manisnya, ia menghela napas, kemudian bersedih. Mengingat bagaimana perpisahannya dengan Falisha tidak meninggalkan kesan yang baik. Betapa dia merasa bersalah meninggalkannya di kota pertemuan mereka. Betapa dia berharap seharusnya tidak jadi seperti ini. Betapa dia berharap Falisha lah teman hidupnya nanti. Sekarang, dia harus tetap melanjutkan hidup. Kenangan 7 tahun yang lalu harus segera ditutup. Tapi Falisha akan selalu di dalam hatinya, sebagai ingatan paling menyenangkan.