Tidak pernah dalam hidupnya bertemu dengan cewek yang berani bilang secara terang-terangan tentang penampilannya. Jake kaget sekali ketika Abel, bendahara kelas yang menyebalkan, memuji rambutnya tempo hari. Yaa, hobi Jake akhir-akhir ini memang keramas sih. Rambutnya memang kesukaannya. Tapi pujian itu jelas merepotkan hatinya. Jake jadi sering secara tidak sengaja menangkap Abel yang memerhatikan dari jauh. Tidak seperti orang kebanyakan yang salah tingkah ketika ketahuan memerhatikan orang lain, malah orang yang ditatap ini yang buang muka.
Tadinya, Jake paling malas membayar uang kas, dia dan beberapa teman gengnya sering nunggak sampai beberapa minggu. Kinan sudah sering ngomel, suaranya melengking menyebalkan. Makanya ketika sudah saatnya bendahara keliling, Jake memutuskan tidur.
Tapi beberapa hari ini Jake melewatkan tidurnya karena menunggu seseorang menghampiri mejanya. Ia sudah mengeluarkan uang dari dompet. Nah, itu dia.
"Hai, Jake. Bayar uang kas, ya." Kata Abel ramah.
"Iya, Abel." Jake tersenyum. Eh, kenapa juga dia tersenyum?
Diam-diam dia memerhatikan teman kelasnya itu. Tidak pernah menyangka ada bidadari yang menjelma jadi bendahara IPS 1.
Sepertinya Abel memang tipe orang yang semakin menarik jika dilihat. Hampir selama 1 tahun, Abel hanyalah bendahara pemalak uang kas baginya, tapi mulai hari kemarin, cewek itu terus membayangi pikirannya. Berkali-kali secara tidak sadar, Jake sering memandanginya dari belakang.
Biasanya Jake juga tidak pernah memerhatikan bu Indri saat kelas ekonomi, tapi belakangan ini bu Indri menyuruh murid untuk menggantikannya menjelaskan. Yang dipilih beberapa kali ini adalah Abel, anak kesayangannya. Jake langsung mengusap wajah, merapikan rambut dan membuka mata lebar ketika Abel bangkit dari duduknya. Dia akan mengikuti kelas ekonomi dengan baik mulai sekarang.
Hari ini ada pelajaran olahraga. Seluruh murid IPS 1 turun ke lapangan dan duduk di bawah pohon rindang sambil mendengar arahan Pak Dasep. Jake tidak sengaja duduk di sebelah Abel. Cewek itu sibuk dengan poninya yang lepek karena panas matahari siang ini.
Jake ingin membuka topik, tapi terlalu ragu untuk itu. Akhirnya yang dia lakukan hanya mengusap rambutnya ke belakang, secara tidak sadar mengkuti gerak-gerik Abel.
"Rambut kamu makin panjang, ya? Bagus tau. Sorry salfok." Abel bersuara, menunjuk rambut Jake yang hitam lebat.
"Lo suka?"
Sedikit terkejut karena tidak menyangka Jake akan menjawab, biasanya laki-laki itu hanya tersenyum kikuk.
"Iya." Jawab Abel berbisik. Mereka bertatapan.
"Iya apa?"
"Iyaaa, suka."
"Orangnya juga?"
Abel mengangguk malu-malu. Dia menyembunyikan wajahnya dengan memeluk kedua lututnya. Jake hanya tertawa santai. Aduh, kalau lucu begini, besok dia akan langsung tembak.
"Nanti mau pulang bareng nggak?" Jake mendekatkan duduknya. Menghiraukan pak Dasep yang berbicara.
"Eh? Rumah aku jauh."
"Di mana emang?"
"Mars."
"Yaa bidadari emang nggak tinggal di bumi sih, ya."
"Ahh." Abel kehabisan kata-kata, hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Jake tertawa menang. Senang sekali melihat wajah Abel memerah.
"Serius, Bel, mau nggak? Nanti beli es krim dulu."
"Maauu."
"Kalau jadi pacar gue juga mau?"
Tidak sempat menjawab. Abel pingsan saat itu juga.