Tapi aku suka kalau sama kamu - Bagian 3




Jake dan Abel menjadi pasangan paling populer di sekolah begitu teman-teman kelas tahu tentang hubungan mereka. Terlebih-lebih keenam teman Jake yang ramai itu. Mereka bersorak paling heboh ketika Jake menggandeng Abel memasuki kelas. Kinan juga ikut-ikutan, bersorak di samping telinga Abel sampai cewek itu ingin menghilang saja rasanya. 

Bahkan guru-guru juga sering menggoda mereka. Tak jarang pula guru Agama yang menasihati Abel sampai geleng-geleng kepala. Abel cuma menyengir dan kabur. 

Setiap pulang sekolah, Jake akan mengajak Abel jalan-jalan menelusuri kota. Keliling banyak mall, singgah ke cafe lucu atau kedai es krim. Jake juga mengajak Abel ke rumahnya yang sangat besar. Dia punya 1 anjing betina yang terus menggongong ketika Abel menginjakkan kaki ke rumah itu. Abel belum pernah menyentuh anjing seumur hidupnya, dia tidak berani. Jake menghargai itu, tapi dia tetap berusaha membuat Layla mengenal pacarnya. 

Kalau Jake suka main sampai lupa waktu, Abel adalah orang yang membuatnya betah di rumah. Ketika main ke rumah Abel, mereka akan meronce gelang manik-manik, atau merajut tempat pensil, atau menonton koleksi film yang seru, atau masak sup ayam siang-siang. Mereka melakukan banyak hal menyenangkan selama 1 tahun itu.

"Kamu udah harus pulang, nih?" Abel cemberut, mengantar Jake sampai depan pagar. 

"Besok kita main lagi, Bel." Jake mengusap rambutnya. "Mau peluk, nggak?" Ia merentangkan tangan. Abel langsung masuk ke dalam pelukan cowok itu. Cemberutnya berubah menjadi senyuman paling lebar sedunia. Hatinya masih saja tidak terbiasa dengan pelukan ini, berdebar tak beraturan. 

"Kenapa sih kita nggak serumah aja..." Rengek Abel. 

Jake tertawa, "Besok langsung nikah deh biar serumah." 

"Maauu. Bener ya?" 

"Bener, sayang." 

"Aaah!!" Abel membenamkan wajahnya pada pelukan laki-laki itu, kemudian mendongak, menatap Jake yang ternyata sedang menatapnya. 

"Apa lihat-lihat?" Ledeknya.

Menatap Jake pada malam hari bukanlah hal yang sama seperti bagaimana dia biasa melihatnya di sekolah. Laki-laki itu sedikit... berbeda. Rambutnya agak berantakan, benar-benar penampilan yang Abel suka. Tatapannya memabukkan, seakan menghipnotis Abel untuk mengambil tindakan selanjutnya. Wajah Abel memanas, sampai tiba-tiba dengan beraninya ia mengecup singkat bibir laki-laki itu. 

"Maaf ya, kamu marah nggak?" 

Jake membeku. Sesuatu berdesir dalam tubuhnya. Jantungnya berdebar luar biasa kencang. Wajahnya merah padam. Bibirnya mendadak panas dan tak bisa bergerak. Sesuatu yang pertama kali dalam hidupnya.

"Maaf ya... abis kamu ganteng banget malem ini." 

Jake tersadar setelah beberapa saat, ia tersenyum lebar menyadari apa yang barusan terjadi. 

"Enggak lah, kenapa marah? Aku... seneng." 

Gantian wajah Abel yang memerah. Ah, semesta, kalau waktu bisa berhenti, tolong berhentilah pada kali ini. Maka Abel akan jadi perempuan paling bahagia di dunia.